WELCOME, GUEST   |   LOGIN   |   REGISTER !
SEARCH

Ekonomi
Eksklusif
Human Interest
Olahraga
Pendidikan
Perspektif
Politik
Seni & Budaya
Tentang Kami
     
 

Mesti Orang Peduli Karate Yang Duduk Di Kepengurusan

Para pencinta olah raga keras, Karate dapat Kabar gembira, terkait pembenahan perwasitan, pelatih, dan rencana pola pembinaan terhadap atlet.
Kabar ini disampaikan oleh Pimpinan PB FORKI, Luhut B Pandjaitan, MPA kepada iwanfals.co.id. Pembenahan itu menurut Luhut sudah dilakukan semenjak tahun ini, “Karate tengah melakukan pembenahan terhadap perwasitan dan pelatihan, yang ujung-ujungnya mengarah ke Atlet,” katanya.
Tahun ini Forki sudah meyakinkan Pengurus World Karate Federation (WKF) Tommy Moris untuk datang ke Indonesia, melihat dan memberikan asistensi dalam peningkatan kualitas pelatih, perwasitan, dan jika diperlukan Tommy juga berencana akan mendatangkan pelatih untuk tim nasional.
Luhut menyatakan, upayanya meyakinkan WKF itu, dibantu oleh para rekannya sesama karateka, diantaranya oleh Hendardji, Iwan Fals, dan lain-lain.
Bahkan, Luhut menambahkan, tahun depan masalah ini sudah menjadi program WKF yang operasionalnya tidak lagi dibiayai oleh Forki. “Hal ini merupakan suatu kemajuan,” kata Luhut.
FORKI menurut Luhut, disamping melakukan pembenahan internal terhadap kapasitas para Karateka, juga sedang mengantisipasi keikutsertaannya di Sea Games 2009, agar Karate bisa berperan lagi seperti yang sudah dilakukan di Philipina 2005.
Saat ini, Forki juga sedang terlibat membantu WKF melobi agar Karate bisa dipertandingkan di Olimpiade, yang diharapkan akan dipertandingkan pada Olimpiade tahun 2016.
Loby-loby dari Forki, juga ikut dilakukan oleh Rita Subowo ketua KONI. “Ini suatu langkah yang bagus, hingga dengan demikian peranan Indonesia dan KONI dalam fasilitasi Olah Raga Karate untuk masuk ke Olimpiade, menjadi sangat besar,” tambahnya.
Sementara, ditanya kemungkinan peluang Karateka Indonesia di ajang-ajang internasional semacam Olimpiade, menurutnya tidak ada masalah. Bahkan, dikatakannya seharusnya Karate bisa menyumbangkan medali di olimpiade nantinya.
Pendapat Luhut bukanlah isapan jempol. Terutama karena pada Kejuaran Dunia di Kopenhagen, Denmark, beberapa waktu yang lalu, Karateka Indonesia berhasil meraih Medali Perunggu, serta memasukkan beberapa atletnya hingga babak ke IV.
Berkaca dari prestasi yang sudah-sudah, terutama pada Kejuaraan Dunia tersebut, para atlet rata-rata gagal menjelang masuk ke semifinal. Disinyalirnya, prestasi Itu bisa dilakukan dengan TC yang hampir setahun dilakukan.
Peluang para Karateka untuk bisa berbicara di forum internasional semacam Olimpiade, menurutnya akan bertambah besar, jika pembinaan berlanjut seperti saat ini, dilakukan hingga 2016, melewati kaderisasi pelatih dan atlet, diharapkannya bisa lebih bagus.
Sementara itu, Sensei Monginsidi dari Perguruan Karate Wadokai - Jawa Tengah, justru berpendapat lain. Menurutnya yang jadi urgensi bagi dunia karate Indonesia saat ini adalah masalah di kepengurusan. “Banyak orang yang duduk di Kepengurusan justru tidak perduli dengan karate,” tambahnya.
Dia menyontohkan, bagaimana sebuah organisasi seperti Forki justru tidak memiliki dojo sendiri yang representatif hingga saat ini.
Sementara, cabang olah raga beladiri lainnya, seperti Pencak Silat sudah memiliki tempat latihan yang representatif di Taman Mini.”Ini merupakan gambaran kecil dari ketidak pedulian mereka,” katanya.
Monginsidi juga mengkritisi pola latihan di Pelatnas yang menurutnya memutus rantai hubungan para atlet Karate dengan pihak lain termasuk pelatihnya. Sebagai contoh, Pelatnas sama sekali tidak menyediakan waktu bagi atletnya untuk bertemu dengan para sempai-nya.
Padahal, sempai para atlet itulah yang paham karakter si Atlet, hingga sebetulnya mereka juga bisa dimintai pertimbangan mengenai si Atlet. “Seharusnya sempai si atlet juga dilibatkan sebagai tim asistensi di Pelatnas,” tambahnya,
Dari situ lantas Monginsidi menambahkan, memang ada kesan selama ini sepertinya atlet “diambil” kalau sudah masuk Pelatnas.
Disamping itu, beberapa atlet kawakan termasuk atlet muda berbakat, saat ini sedang dililit cidera. Cidera para atlet Karate tersebut, ditengarainya karena kesalahan program latihan di Pelatnas, “Lha wong mereka cidera karena latihan ko’, tidak karena bertanding, apalagi kalau tidak dikatakan kesalahan program pelatihan,” tekan Monginsidi.
Bahkan beberapa diantaranya masih menggunakan pen di kakinya, saat mengikuti kejuaraan-kejuaraan. Sebuah resiko yang mesti dibayar mahal oleh Sang Atlet.
Anehnya, FORKI terkesan tutup mata dengan masalah ini. “Diantara mereka bahkan mesti mengeluarkan anggaran pribadinya untuk berobat,” ini miris sekali.
Disamping itu, proses suksesi yang tidak jelas juga disorotinya. Dicontohkannya seperti di Pengda Jateng, disamping tidak punya keperdulian dengan kemajuan Karate di daerahnya, pengurus Pengda sudah lama tidak diganti.
Jadi, menurut Monginsidi, masalahnya tidak akan selesai dengan memanggil para petinggi WKF ke Indonesia, lantas mereka diminta memberi masukan, memberi pelatihan dan sebagainya. “Masalahnya sebetulnya karena “carut marut” nya kepengurusan saat ini, yang kurang kepeduliannya,“ tambahnya.dri

Berita Lain

1   Piala Thomas dan Uber Lepas, Karena Pemerintah Sibuk Urus Politik
2   PSSI Sekarang Ini
3   Kendati Positif, PORPI Belum Didukung Pemerintah
4   PORPI Padukan Senam dan Pernapasan Selama 23 tahun
5   Mendesak Pemahaman Wasit Terhadap Peraturan Baru Karate
6   Andre Wetsel, Pelatih Bola Kelahiran Surabaya
7   Somjit Dari Tinju Beralih Jadi Penyanyi
8   Skateboard Terus Berkembang Meski Sarana Seadanya