WELCOME, GUEST   |   LOGIN   |   REGISTER !
SEARCH

Ekonomi
Eksklusif
Human Interest
Olahraga
Pendidikan
Perspektif
Politik
Seni & Budaya
Tentang Kami
     
 

Sejarah Banjir di Jakarta

Oleh: Djoko Prayogi

Saat ini, di Indonesia sudah memasuki musim penghujan. Saat memasuki musim hujan, masyarakat Indonesia selalu menyambutnya dengan hati yang berdebar. Pasalnya, setiap musim hujan, sebagian wilayah di Indonesia selalu disertai dengan banjir, yang menyebabkan rumah maupun sawah mereka harus terendam.

Saat ini wilayah yang mendapatkan sorotan paling tajam adalah Jakarta. Dimana setiap memasuki musim hujan selalu banjir di hampir 90% wilayahnya. Meskipun berbagai cara telah dilakukan, namun banjir tidak bisa dilawan. Kini masyarakat Jakarta berharap banyak dengan dibangunnya Banjir Kanal Timur dan Barat, mampu mengatasi masalah banjir yang selalu menghampiri mereka.

Namun, harapan masyarakat Jakarta terhadap banjir kanal sepertinya terlalu berlebihan. Pasalnya, menurut para pakar dan pihak pemda, banjir kanal tidak membuat Jakarta terbebas dari banjir. Banjir kanal hanya mampu mengurangi banjir yang terjadi di Jakarta.

Memang, masalah banjir tidak bisa diatasi dengan hanya banjir kanal. Semua pihak perlu bersama-sama sadar akan pentingnya menjaga lingkungan agar tidak terkena banjir. Tapi, terlepas dari itu semua, mungkin banyak dari pembaca iwanfals.co.id yang yang belum mengetahui bagaimana sejarah banjir yang terjadi di Jakarta.

Menurut Restu Gunawan, Jakarta, yang waktu itu masih bernama Batavia, saat pertama kali dibangun, memiliki sebuah sistem kanal segi empat, yang sangat menyerupai tata letak Amsterdam di Belanda. Tapi, sistem ini ternyata menimbulkan persoalan baru. Selain kapasitasnya yang terbatas menyebabkan keberadaan sistem kanal ini gagal menjadi sarana pengendali banjir, kondisi kanal yang tak higienis juga berakibat munculnya berbagai sumber penyakit.

Berbagai infrastruktur yang diwariskan oleh pemerintah kolonial tersebut bukan saja terbukti tidak mampu menangkal banjir di Jakarta masa kini, pada saat itu pun sebetulnya keberadaan berbagai infrastruktur berupa kanal-kanal tersebut tidak mampu menghalangi ancaman banjir di Batavia.

Saat ini, Pemda DKI Jakarta sepertinya ingin mencoba kembali kegagalan yang pernah dialami oleh Belanda waktu itu.

"Sistem kanal dalam fungsinya sebagai infrastruktur pengendali banjir di Jakarta, dari dulu hingga sekarang, adalah salah satu contoh sistem penataan kota yang gagal," kata Restu Gunawan, doktor sejarah pada program Pascasarjana Universitas Indonesia, yang menulis disertasi tentang sejarah banjir di Jakarta.

Saat berumur dua tahun, tepatnya pada tahun 1621 adalah pertama kali dalam sejarah Hindia Belanda, di mana pos pertahanan utama VOC di Asia Timur itu dilanda banjir besar. Di luar banjir-banjir kecil yang hampir tiap tahun terjadi di daerah pinggiran kota, tahun 1654, 1872, 1909, dan 1918 (ketika wilayah Jakarta sudah semakin melebar hingga ke Glodok, Pejambon, Kali Besar, Gunung Sari, dan Kampung Tambora) banjir besar kembali datang menerjang Jakarta.

Banjir yang melanda Jakarta pada Februari 1918 tercatat paling besar dalam sejarah banjir di pusat pemerintahan Hindia Belanda ini. Koran Sin Po edisi 19 Februari 1918 mencatat, hampir seluruh Jakarta digenangi air.

Di kawasan seperti Tanah Tinggi, Pinangsia, Glodok, Straat Belandongan, Tambora, Grogol, Petaksinkian, Kali Besar Oost, rata-rata ketinggian air hingga sedada orang dewasa. Begitu pun di Angke, Pekojan, Kebun Jeruk, Kapuran, Kampung Jacatra atau Kampung Pecah Kulir di samping Kali Gunung Sari, serta Pejambon, air juga merendam rumah- rumah penduduk "boemipoetera". Pasar Baru, Gereja Katedral, dan daerah sebelah barat Molenvliet (sekitar Monas sekarang) dijadikan tempat pengungsian.

Tahun-tahun setelah itu, bahkan setelah pemerintah Hindia Belanda selesai membangun saluran air yang di kemudian hari dikenal dengan sebutan Banjir Kanal Barat, dari kliping-kliping koran atau majalah pada masa itu terlihat bahwa hampir tiap tahun Jakarta kebanjiran. Satu situasi yang sebelumnya diakui Van Breen bahwa kehadiran fasilitas pengendali banjir tersebut memang tidak sepenuhnya menjamin Jakarta terbebas dari banjir.

Apabila hanya mengandalkan Banjir Kanal Barat dan Pintu Air Manggarai, yang terjadi adalah pengalihan wilayah banjir. Jika sebelumnya banjir melanda kawasan Weltevreden dan Menteng, dengan adanya kanal dan pintu air tadi, air lalu mengalir ke tempat yang lebih rendah sehingga banjir pun berpindah ke daerah Manggarai dan Jatinegara.

Kekhawatiran itu memang akhirnya jadi kenyataan. Tahun 1923, misalnya, Bintang Hindia (De Maleisce Revue) edisi 17 Februari, Th II, No. 7, melukiskan suasana banjir di Betawi pada musim hujan kala itu. Adapun banjir pada tahun 1932 direkam oleh Pandji Poestaka edisi Januari, lewat dua laporan mereka bertajuk "Moesim Bandjir" serta "Moesim Hudjan dan Bandjir".

Van Breen tidak bohong. Sebab, keberadaan Banjir Kanal Barat yang ada sekarang dan pintu air utama di Manggarai hanya "bagian kecil" dari keseluruhan sistem yang ia rancang. Kanal yang ada itu idealnya diteruskan lagi ke arah barat kemudian membujur ke utara sehingga benar-benar bisa melindungi Batavia dari ancaman banjir dari selatan

"Selain itu, Van Breen juga merancang adanya terusan di ’lingkar luar’ Banjir Kanal Barat, yang sekarang mungkin melingkari hingga kawasan Pasar Minggu. Tetapi, gagasan ini tidak jalan. Adapun pemikiran Van Breen terkait pembuatan terusan di timur baru digaungkan kembali tahun 1970-an dan sekarang baru akan direalisasikan," ujar Restu Gunawan.

Banyak orang lupa bahwa sistem kanal hanya sebagian dari gagasan Van Breen. Ia juga menyodorkan pemikiran perlunya sistem polder. Kawasan rawa di sepanjang pantai utara Jakarta mesti dikelilingi tanggul, kemudian airnya dipompa ke luar melalui parit-parit sampai kering. Ini pun tidak terwujud.

Terlepas dari itu semua, dilihat dari perspektif sejarah, tampaknya banjir sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari Jakarta. Ketika ia masih bernama Batavia, ketika jumlah penduduknya masih dalam hitungan ratusan ribu jiwa, dan ketika ruang-ruang terbuka masih terhampar luas—sementara di kawasan puncak kondisi lahan relatif belum separah sekarang—toh, banjir juga menjadi peristiwa rutin.

Ketika kita gagal menjaga warisan budaya masa lampau berupa bangunan-bangunan bersejarah, di belahan lain ternyata kota ini justru dipaksa mewarisi sisi kelam Batavia yang hitam: banjir!

Banjir memang sudah menjadi sahabat setia warga Jakarta sejak wilayah ini dibangun. Tidak ada yang mampu menghadang datangnya banjir. Kini kita hanya bisa berharap dan berdoa, agar banjir yang selalu melanda Jakarta bisa berkurang, sehingga meskipun memasuki musim hujan warga Jakarta tetap bisa tidur nyenyak tanpa harus takut datangnya banjir.

Berita Lain

1   Tolak Permen Sebagai Kembalian
2   UN Terus Minta Tumbal
3   STOP Penggunaan dan Pembunuhan Hewan Demi Fashion
4   Obama Diharapkan Membawa Misi Kemanusiaan Terkait Penyalahgunaan Narkoba
5   Banjir Sebagai Konsekuensi Hancurnya Lingkungan
6   COP 15 Kopenhagen Disusupi Agenda Konspiratif
7   Iwan Fals dan Greenpeace Perjuangkan Lingkungan dan Kelestarian Hutan
8   Kevin Soedyatmiko, Juara Olimpiade Termuda Dari Indonesia