Warga Rusun Klender Enggan Relokasi dan Pembangunan Rusunami Malaka Green
Oleh Andri Oktavia
Warga rumah susun (rusun) Klender, Jakarta Timur pantas resah, pasalnya Perum Perumnas berencana membangun beberapa menara rumah susun sederhana hak milik (rusunami) di lokasi mereka tinggal saat ini.
Pembangunan Malaka Green Rusunami, akan menggusur atau setidaknya membongkar rumah susun yang sudah mereka diami semenjak tahun 1980 itu.
Salah seorang warga menuturkan, rencana pembangunan Malaka Green Rusunami tersebut sontak mengagetkan mereka. Melalui sebuah rapat warga yang digelar atas inisiatif Perum Perumnas pertengahan tahun ini, Perum Perumnas dianggap secara sepihak bertindak sewenang-wenang terhadap warga, karena berencana membangun proyek baru di atas lahan tempat tinggal warga.
Ada 1200-an warga rumah susun Klender yang sebagian besar menolak rencana Perum Perumnas mendirikan rusunami tersebut. Keberatan warga terutama model ganti rugi atau relokasi kepada mereka yang coba ditawarkan perumnas, dinilai tidak adil.
Saat itu, rapat yang seharusnya melibatkan Perhimpunan Penghuni Rumah Susun Klender (PPRSK), sesuai amanat berita acara serah terima, ternyata oleh Perumnas diarahkan langsung ke para RT dan warga. ”Sampai di sini, Perumnas sudah terlihat arogan, tanpa melibatkan PPRSK,” tambah seorang warga yang enggan disebut namanya itu.
Disamping itu, warga pemilik rumah susun dijanjikan hanya boleh menempati rumah susun yang akan dibangun tersebut mulai lantai 16 ke atas, di masing-masing menara dengan alasan yang tidak jelas.
Tidak itu saja, harga rusunami yang ditawarkan oleh Perumnas, dinilai warga relatif mahal dan tidak masuk akal. Sejauh ini Perumnas menawarkan harga Rp 88 Juta dan Rp 144 Juta, masing-masing untuk unit rumah yang berkamar satu dan dua. Padahal hak masyarakat jauh lebih besar dari itu, jika dibandingkan luas tanah dan bangunan yang mereka miliki saat ini.
Ini dikuatkan oleh taksiran harga NJOP untuk tanah, di wilayah mereka sudah mencapai Rp 2 juta per meter. Bisa dibayangkan, tanah mereka yang seluas 49 meter2 akan seharga nyaris 100 juta. ”Itu baru taksiran dari harga tanahnya saja, belum bangunannya,” tambahnya.
Ironisnya, buntut rencana pembangunan rusunami tersebut, belakangan menyulitkan warga yang berencana memperpanjang kepemilikan unit-unit rumah mereka, kalau tidak mau dikatakan mempersulit. ”Sekarang warga yang mengurus perpanjangan HGB dipersulit oleh Perumnas, karena mereka sudah berencana membangun rusunami tersebut,” tambah Hasan Basri, Pengurus PPRSK.
Terakhir, warga berupaya melakukan perpanjangan HGB langsung ke pihak BPN. Namun, diperlukan sertifikat induk rumah susun tersebut. Akan tetapi setelah ditanyakan oleh warga ke Perum Perumnas, perusahaan Plat Merah tersebut beralasan sertifikat rusun yang dihuni oleh ribuan KK itu, hilang.
Batas akhir kepemilikan rumah-rumah mereka akan berakhir pada Februari 2010, apalagi jika merujuk ketentuan pemerintah, warga yang status bangunannya berupa HGB mesti mengajukan perpanjangan bangunannya. Sebab jika tidak, maka mereka dianggap tidak ingin tinggal lagi di pemukiman itu.
Kondisi rusun Klender sendiri, berdasar pantauan iwanfals.co.id memang tampak kumuh, disamping sebagian besar atap rumah warga tampak jebol, di beberapa bagian dinding dan tangga pun tampak retak. Akses jalan diantara perumahan pun banyak yang rusak.
Namun, terkait bangunan perumahan yang tampak rusak di sana-sininya, kata seorang warga, selama puluhan tahun menempati rumah susun tersebut, dinilainya Perumnas abai melakukan perbaikan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
Semenjak tahun 2000 misalnya, warga sempat memprotes Perumnas karena tak lagi melakukan perbaikan sarana perumahan yang jadi kewajibannya sesuai ketentuan yang sudah disepakati, semisal perbaikan tangga, salasar rumah, serta atap.
Ketika warga melaporkan beberapa kerusakan rumahnya kepada pihak Perumnas, pihak Perumnas beralasan bahwa perbaikan terhadap beberapa kerusakan rumah mereka, sudah pernah dilakukan.
Aroma sulit berhubungan dengan manajemen Perumnas memang terasa, terutama ketika iwanfals.co.id coba mengkonfirmasi hal ini. Akan tetapi rencananya proyek pembangunan Rusunami Klender bakal jalan terus, meski warga sempat mencabuti patok pembuatan pagar proyek tersebut beberapa waktu lalu.
Perumnas tampaknya tidak main-main, terutama untuk mengejar target pembangunan 1000 menara. Hal ini terutama untuk semakin mengukuhkan pengembang Perumnas menjadi salah satu spesialis pengembang perumahan di perkotaan.
Bahkan, menurut Dirut Perumnas Arief Sugoto, tahun depan Perumnas akan merealisasikan 50 menara Rusunami di Jabodetabek, termasuk beberapa kota seperti Bandung dan Surabaya.
Sampai akhir tahun 2009 ini, Perumnas diperkirakan sudah merealisasikan pembangunan 31 menara rusunami, dengan total 11.000 unit yang berlokasi di Cengkareng, Bekasi Barat, Sentra Timur Pulo Gebang, Kemayoran, dan Klender. Rencananya, sebagian besar pembangunan akan rampung pada akhir tahun ini.
|