WELCOME, GUEST   |   LOGIN   |   REGISTER !
SEARCH

Ekonomi
Eksklusif
Human Interest
Olahraga
Pendidikan
Perspektif
Politik
Seni & Budaya
Tentang Kami
     
 

Kevin Soedyatmiko, Juara Olimpiade Termuda Dari Indonesia

Oleh: Djoko Prayogi

Usianya memang masih sangat belia, yaitu 15 tahun. Tapi, kalau bicara masalah prestasi, tidak perlu diragukan lagi. Meskipun baru berusia 15 tahun, tetapi lelaki yang satu ini seringkali menerima penghargaan, baik dari dalam negeri maupun di luar negeri. Bahkan, belum lama ini ia berhasil meraih emas, di Kazakhstan. Yang lebih hebatnya lagi, perlombaan tersebut justru untuk siswa kelas 3 SMA, sedangkan ia baru kelas satu SMA.

Kevin Soedyatmiko, siswa kelas 1 Sekolah Menengah Atas 12 Klender Jakarta Timur berhasil menyabet medali emas di International Zhautykov Olympiad yang berlangsung di Almaty, Kazakhstan, 20 Januari lalu. "Lombanya untuk siswa kelas 3 SMA," ujarnya saat ditemui iwanfals.co.id.

Ia menuturkan, perihal perlombaan yang ia ikuti beberapa bulan yang lalu. Menurutnya, perlombaan tersebut berjalan selama dua hari, Kevin bertarung dan menyisihkan 89 peserta dari 16 negara dengan menyelesaikan soal-soal teori dan eksperimen.

Meskipun menang, ini bukanlah penghargaan internasional pertama buat Kevin. Pasalnya, sejak masih duduk di kelas V Sekolah Dasar Negeri Penabur Kelapa Gading bakat bocah dengan IQ 154 terpantau oleh fisikawan Yohanes Surya yang kemudian mengikutsertakan Kevin dalam pelatihannya, Tim Olimpiade Fisika Indonesia.

Saat masih di kelas VI, Museum Rekor Indonesia mencatatnya sebagai orang Indonesia termuda yang menyabet juara olimpiade internasional, setelah Kevin menjadi jawara di olimpiade matematika internasional di Bangkok, Thailand.

Menurut Kevin, sejak kecil dia sudah menyenangi hitung-hitungan. Menghadapi kejuaraan, gairahnya semakin menggebu. "Karena beda dengan soal-soal di sekolah," ujar pemegang sabuk hitam tae kwon do ini.

Si Jenius yang Religius

“Tuhan, yang terindah dalam hidupku adalah memuji, menyembah, dan menikmati hadirat-Mu. Aku tidak ingin mendapat medali emas jika itu menjadi berhala buatku. Jika itu membuatku sombong dan jauh dari Engkau. Karena hanya Engkau yang kuingini dan kuperlu di dalam hidupku.” Doa itu kerap kali dipanjatkan Kevin Soedyatmiko sesaat sebelum bertanding.

Sejak SD, Kevin dijuluki Mr. Matematika oleh teman-temannya. Tuhan telah memberinya otak jenius. Dengan doa, kegigihan, kedisiplinan, dan semangat pantang menyerah, karunia itu berkembang optimal.

Kevin terkenal gigih memecahkan soal matematika. Semakin tinggi tingkat kesulitannya, Kevin makin tertantang. Jika belum ketemu penyelesaiannya, Kevin tak bakal menyerah. Ia bisa duduk tekun 6 jam untuk menghadapi soal-soal itu. Tak heran, jika soal dengan tingkat kesulitan setara universitas bisa dilalap siswa kelas 1 SMA di bilangan Jakarta Timur ini.

Namun, belakangan ia beralih dari Matematika ke Fisika. Benih cintanya pada bidang fisika tumbuh saat ia bertemu dengan Prof. Yohanes Surya, Ph.D yang menjadi pelatih Kevin sejak ia kelas 5 SD. “Ternyata bukan hanya matematika yang asyik, fisika juga menantang. Apalagi kalau profesor saya yang mengajarkannya,” tutur peraih medali perak pada IJSO Internasional Junior Science Olympiade di Brasil ini.

Gayung pun bersambut. Tahun 2005, Sekretariat Negara Republik Indonesia mengirim dia sebagai wakil Indonesia di UNESCO Conference Launch Internasional Year of Physic di Paris, Perancis. Di sana, ia bertemu 8 peraih Nobel.

Prestasi itu membuat Kevin mendapat beasiswa sekolah di Singapura. Akomodasi dan uang saku selama 4 tahun ditanggung. Kevin tetap mengukir prestasi. Ia meraih rangking pertama pada sebuah kompetisi matematika di Singapura.

Tak hanya itu, seluruh materi matematika tingkat advance selama dua tahun ajaran diselesaikan dalam waktu 3 bulan pertamanya di Singapura. Ia bahkan, telah menulis buku “Solutions To Additional Mathematics”, sebuah buku matematika tingkat advance yang dipakai di hampir semua sekolah di Singapura. “You will become a richman ini Singapore by your book,” demikian ujar salah satu ketua jurusan di sekolah Kevin.

Baru setahun, Kevin kembali ke Indonesia. Ia berharap bisa mewakili Indonesia dia ajang olimpiade fisika internasional. Ya, pelahap berbagai buku matematika dan fisika ini memang sosok yang diperhitungkan di berbagai kompetisi.

Terakhir, Januari lalu Kevin bergelut dengan soal fisika di tengah dinginnya salju. Kevin yang masih kelas 1 SMA itu harus menghadapi soal olimpiade fisika internasional tingkat kelas 3 SMA. “Aku harus dapat membuktikan Indonesia tak kalah dengan negara lain pada olimpiade fisika yang bergengsi ini,” tekadnya.

Akhirnya, ia pun meraih medali emas dan dinyatakan sebagai peserta termuda. Saat penganugerahan medali emas, Kevin merentangkan bendera merah-putih disaksikan peserta dari berbagai negara. “Semua ini karena anugerah-Nya,” kata Kevin penuh ucapan syukur.

Berita Lain

1   Tolak Permen Sebagai Kembalian
2   UN Terus Minta Tumbal
3   STOP Penggunaan dan Pembunuhan Hewan Demi Fashion
4   Obama Diharapkan Membawa Misi Kemanusiaan Terkait Penyalahgunaan Narkoba
5   Sejarah Banjir di Jakarta
6   Banjir Sebagai Konsekuensi Hancurnya Lingkungan
7   COP 15 Kopenhagen Disusupi Agenda Konspiratif
8   Iwan Fals dan Greenpeace Perjuangkan Lingkungan dan Kelestarian Hutan