Popularitas…
Oleh: Teguh Siswoharsono
Alkisah, ada seorang yang sangat terobsesi dengan popularitas. Sebut saja namanya, Mr P. Menurutnya, segala sesuatu akan lebih enak, lebih nyaman, lebih mudah, lebih aman dan lebih dari segala yang lebih asal memiliki popularitas. Karena begitu meyakini tentang kekuatan popularitas itu, segala upayanya diarahkan untuk meraih popularitas.
Bagaimana agar bisa populer? Itulah pertanyaan yang terus menari di dalam benaknya. Mr P juga percaya, popularitas akan lebih mudah diraih dengan segala hal yang sifatnya sensasional. Lalu dia pun mengumpulkan beberapa infotainment dan beberapa pengelola media cetak, melakukan pendekatan agar tampangnya bisa muncul di sana. Tapi atas dasar apa, profilnya di tulis atau ditampilkan. Soal atas dasarnya, itu gampang, yang penting media mau meliputnya.
Tiba-tiba saja dia berubah menjadi penyanyi. Dia ingin launching albumnya. Padahal tak ada riwayat dia pernah menyanyi. Seperti menjadi penyanyi kafe atau pernah bergabung dengan band di sekolah, misalnya. Dia menjadi penyanyi lantaran ingin popular saja. Luar biasa. Pada saat launching, seluruh media cetak dan elektronik pun diundang.
Keesokan harinya, dia tersenyum kecut, wajahnya hanya muncul di beberapa media cetak. Dan sedikit infotainment. Dan dia juga belum cukup popular. Orang-orang yang bertemu dengannya belum juga mengenalnya. Tak berusaha minta tanda tangan atau menyapa. Mr P kecewa. Usahanya sia-sia.
Tapi dia belum berputus asa. Dia berpikir mungkin usahanya belum cukup sensasional. Dia kumpulkan lagi beberapa media. Dia bilang kepada media bahwa dirinya sedang pacaran dengan salah seorang selebritis. Tetap saja, belum popular.
Sampai satu hari, entah bisikan dari mana, dia menemukan ide cemerlang untuk meraih popularitas. Dikumpulkannya lagi seluruh media. Dimintanya untuk berada di bawah menara yang tinggi. Para wartawan pun sempat bertanya-tanya untuk apa dia diajak ke sana.
Setelah media berkumpul, tanpa pembicaraan lagi, dia menaiki menara itu. Lampu blitz pun mulai menyala bagai kilat halilintar saat mengabadikan aksi Mr P memanjati menara tanpa tali pengaman. Kamera infotainment juga sama. Tiap momen terus direkam tanpa kehilangan sedikit pun. Lalu begitu sampai di puncak, dia melompat dari atas menara itu meluncur dan meninggal dunia. Seluruh awak media terkejut dan terpana melihat kejadian itu.
Sejurus kemudian lari untuk menghampiri dan terus mengabadikan tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Mr P mendadak popular. Di warung-warung kopi, di setiap rumah-rumah membicarakan Mr P. Sayang, Mr P sudah tidak bisa menikmati popularitasnya. Dia harus berurusan dengan hukum Tuhan di akhirat lantaran ulahnya menghabisi nyawa sendiri.
Popularitas, menurut kamus Inggris - Indonesia susunan John M Echols dan Hassan Shadily berasal dari kata popular yang berarti populer atau terkenal baik. Untuk meraih itu bisa melalui bidang apa saja misalnya lewat seni, politik, hukum, keilmuan dan lain-lain. Banyak tokoh-tokoh yang populer melalui jalur itu. Popularitas didapat seseorang sebagai dampak dari bidang yang digelutinya. Bukan sebaliknya.
Tapi yang terjadi kadang-kadang malah sebaliknya. Popularitas diraih lebih dulu untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Mereka yang berjuang untuk meraih popularitas mungkin juga belum tahu rasanya jadi populer. Atau tak pernah terpikirkan bagaimana tak enaknya menjadi popular.
Mereka masih sibuk bagaimana menjadi popular. Sebab popular itu enak. Itu sebabnya, kita sering mendengar istilah manajemen gossip, gosip rekayasa, dan lain sebagainya yang tujuannya untuk meraih popularitas. Dalam dunia hiburan di tanah air, menjadi popular sebagai keniscayaan. Bisa direkayasa, bisa dibuat dan mudah diraih. Popularitas bukan sesuatu yang datang dari langit seperti wangsit. Siapa saja bisa popular asal tahu caranya menjadi populer. Pintu-pintu menjadi popular lebih banyak terbuka ketimbang tertutup.
Seperti yang dilakukan salah seorang petinggi partai di negeri ini, sengaja membuat sebuah gosip rekayasa agar namanya dibincangkan infotainment dan ditulis media sehingga jadi populer. Usahanya memang ampuh. Dia tak perlu datang ke konstituen untuk meperkenalkan diri. Lewat infotainment, kampanye menjadi lebih efektif.
Cerita seorang artis yang ingin namanya lebih terkenal pun jadi lebih gampang, buatlah gosip seolah-olah selingkuh dan seolah-olah bercerai sehingga namanya diperbincangkan. Dia pun mendadak terkenal. Di Indonesia, lebih banyak artis yang terkenal bukan lantaran keartisannya. Tapi lebih karena berita atau sensasi yang diciptakannya.
Contoh paling aktual adalah Manohara. Manohara popular bukan lantaran kiprahnya di dunia sinetron atau model. Tapi cerita hidupnya yang kontroversi. Dengan bekal popularitas itulah dia menjadi pemain sinetron. Bukan sebaliknya.
Inul Daratista menjadi sangat popular bukan karena suaranya yang sangat merdu atau goyangannya yang heboh. Tapi karena kontroversi goyangannya itu. Ketika terjadi konflik itulah nama Inul Daratista ngetop. Sheila Marcia menjadi ngetop bukan karena kiprahnya di dunia sinetron atau nyanyi, tapi lantaran bolak-balik masuk bui. Orang-orang tak pernah berpikir menjadi popular juga banyak hal yang harus dikorbankan.
Menurut Iwan Fals, menjadi terkenal itu banyak hal-hal yang dilakukan harus secara sembunyi-sembunyi atau ‘ngumpet-ngumpet’ demi menghindari kejaran fans. “Saya bersyukur atas popularitas yang dikarunia Allah. Banyak kemudahan dan banyak hal yang diterima dari popularitas ini. Tapi memang ada juga yang hilang, saya tidak bisa makan sembarangan. Tidak bisa pergi ke mal atau pasar tradisional dengan nyaman. Kecuali harus dengan cara menyamar. Tapi alhamdulillah, fans ku sekarang sudah dewasa, mereka tak mengejar seperti dulu. Saya dikasih ruang cukup. Mereka sudah bisa mengerti kapan mendekat dan kapan saatnya saya diberi ruang sendiri. Untuk mencapai itu juga butuh waktu, butuh pendewasaan,” ungkap Iwan Fals kepada iwanfals.co.id.
Lebih lanjut Iwan menandaskan menjadi popular pada awalnya juga sangat menyiksa. Setiap tampil di publik harus terlihat senyum, seolah-olah tak ada persoalan. Masyarakat menuntut yang diidolakan harus tampil sempurna. Tekanan psikologis yang begitu berat cukup menekan jiwa. Sehingga tak sedikit yang menjadi stres dan bahkan bunuh diri akibat popularitas. Tapi setelah tahu bagaimana cara menjadi popular, dan memanfaatkan popularitas, popular itu enak
|