Inisisri, Sang Jenius dan Idealis Yang Telah Pergi
Oleh Andri Oktavia dan Teguh Siswoharsono
Dunia musik dan seni Indonesia, kehilangan lagi senimannya yang penuh idealisme, Rabu (30/9). Inisisri, drummer dan pemain perkusi terbaik Indonesia, menghembuskan nafas terakhirnya di usia 58 tahun.
Inisisri musisi kelahiran Semarang, semenjak lama mengidap penyakit saluran pencernaan yang belakangan didiagnosa dokter sebagai penyakit CROHN. Sri menghembuskan nafas terakhir pada pukul 15.20, di RS Graha Permata Ibu, Depok.
Manajer sekaligus kerabat Inisisri, Prita Indrarini (48), ketika dikonfirmasi iwanfals.co.id menyatakan, Sisri melewati saat-saat terakhirnya dengan mudah dan tenang, tanpa kesulitan dia pergi menghadap penciptanya. ”Mungkin memang ini yang terbaik baginya,” urainya diselingi mata berkaca-kaca.
Seperti diketahui, Inisisri hidup sendiri di bilangan Kali Mulya Depok, tanpa beristri dan anak. Kendati demikian, Sisri diakui oleh Prita memang memiliki anak-anak asuh, termasuk dirinya, yang sudah dianggap Sisri sebagai orang tua asuhnya.
Satu obsesi Inisisri, menurut Prita yang juga terlibat di manajemen band Kahanan yang dipimpin Sisri, dia (Sisri-red) menginginkan agar rumahnya yang asri menjadi ramai oleh kegiatan berkesenian. ”Itu yang belum terwujud,” tambahnya.
Sisri menurut Prita, dalam kesehariannya selama ini menjalani perawatan di rumah Prita, sebab menurutnya Sisri memang hidup seorang diri, di rumahnya di Depok. Untuk itu, guna mempermudah perawatan dia berinisiatif merawat rekannya tersebut di kediamannya bersama suami dan keluarganya.
”Biasanya,usai menjalani beberapa perawatan atas penyakit yang merupakan cikal-bakal dari kanker usus itu, Sisri memang selalu dirawat terlebih dahulu di rumah, hingga kondisinya benar-benar membaik,” tambah Prita yang tampak sibuk di rumah duka ini.
Sejak 14 Desember belakangan Sisri tinggal di kediamannya, hingga saat kemarin, penyakitnya kambuh, dia dilarikan ke RS, namun sayang jiwanya tidak tertolong.
Musisi folk Indonesia, Iwan Fals mengaku kaget dan merasa kehilangan. Baginya Inisisri sudah dianggap sebagai kakak. Yang tak lekang dari ingatan Iwan tentang Sisri, upaya heroik Sri saat digelar konser Kantata Takwa di Senayan, era 90-an.
Dengan aksi panggungnya, Sisri sudah menyelamatkan Jakarta dari amukan penonton Kantata. ”Waktu itu listrik di panggung mati, lantas inisiatif Mas Sisri melakukan aksi drum menutup kekosongan di atas panggung, ” urai Iwan.
Apa yang dilakukan oleh Sisri tersebut, menurut Iwan, tanpa dikomando, dengan tenang dan tanggapnya, Sisri mengambil inisiatif tersebut. Ketika alat musik termasuk vokal keseluruhannya nyaris tak terdengar, kecuali drum yang jadi penyelamatnya.
Belakangan yang dilakukan Sri tersebut lebih dari sekedar aksi panggung, karena dengan gema tabuhan drumnya, dia mampu menenangkan ratusan ribu penonton di Senayan sembari berdzikir.
Apa yang dilakukannya, menunjukkan ketenangan yang luar biasa, hingga penonton menyangka bahwa permainan drum Sisri selama tiga sampai empat menit itu memang bagian dari pertunjukan,” kenang Iwan.
Iwan mengaku terakhir kali bertemu dengan Sisri dua atau tiga bulan yang lalu, saat itu Sisri sedang menjalani perawatan di salah satu rumah sakit. Sementara, yang cukup intens melihat perkembangan kesehatan Sisri adalah Totok Tewel (gitaris band Iwan Fals).
 Dari Totok, dua atau tiga hari yang lalu, Iwan mendengar kesehatan Sisri semakin memburuk. ”Namun memang belum sempat aku menjenguknya, Mas Sisri sudah keburu ’pergi’, tambah Iwan dengan nada suara berat.
Saat terakhir bertemu muka dengan Sisri, Iwan mengaku sempat menyuntikkan semangat kepadanya untuk menuangkan semua perasaan dan situasi hatinya ke musik. Mengingat segala upaya sudah dilakukan untuk kesembuhannya, dengan harapan perbaikan mental dan semangatnya justru bisa lebih cepat jika dicurahkan ke musik. ”Kala itu tampak sinar semangat dari tatapan matanya,” urai Iwan.
Diketahuinya, Sisri masih berkarya lewat kelompok musik Kahanan dengan musik tradisi yang kental nuansa Banyuwangi. Di Kahanan, eksplorasi musik Sisri semakin tajam dan mendalam, baik karya dan emosinya. ”Aku sempat mendengar beberapa komposisi musiknya, wah rasanya lebih metal dari musik metal sekalipun. Namun anehnya musik tersebut tetap mencapai komposisi keindahan yang luar biasa,” urai Iwan.
Bahkan, demi mengejar kekayaan musik Kahanan, Sisri sering melakukan perjalanan Jakarta-Banyuwangi. Demi totalitas, bergaul dan masuk ke kalangan masyarakat kecil pemilik musik tradisi Banyuwangi, dengan sangat akrab bukan sekedarnya.
Perjalanan tersebut dilakoni seorang diri, ditemani VW Comby-nya yang setia, apa pun resiko yang mesti dihadapinya di perjalanan. ”Aku salut betul, begitu cintanya dia terhadap perkerjaannya. Hasilnya adalah karya-karya yang luar biasa,” tambah Iwan.
Sikap Sisri dalam berkesenian sudah memberinya (Iwan Fals -red) banyak inspirasi. Oleh karena itu, dia berencana membuat sebuah karya yang berhubungan dengan seorang Inisisri.
Sebetulnya, Iwan mengaku punya obsesi bersama Kahanan dengan mengisi vokalnya, hal itu sesuai bincang-bincangnya dengan Sisri. Namun, memang sulit mengakurkan waktunya. ”Itu yang belum kesampaian,” urainya.
Bagi Iwan, Sisri merupakan salah seorang yang ’menertibkannya’. Iwan mengaku banyak belajar soal detail terhadap Sisri, disiplin, serta keteraturan. ”Aku pernah dimarahinya, saat mengendarai mobil di jalan tol, lantas menyalip dari kiri. Yang seperti itu dia bisa benar-benar marah,” tambah Iwan.
Disamping itu, Sisri juga orang yang fokus jika berkeinginan, sangat tenang, dan selalu memiliki solusi. ”Inisisri, dengan ketenangan dan kedamaian jiwanya, sudah menjadi kakak bagiku. Dilempar stik drum karena bercanda kelewatan pun aku pernah olehnya,” urai Iwan.
Sementara itu, Iwan Burnani, seniman eks Barock, yang pernah berhubungan dekat dengan Inisisri mengaku takjub dengan idealisme, totalitas dan perfeksionis seorang Inisisri dalam bermusik.
Demi mengejar sensasi tertentu dari alat musik misalnya, bisa saja hal tertentu yang sulit mesti dilakukannya. beberapa alat musik bahkan sengaja dicipta oleh Sisri untuk menghadirkan sensasi-sensasi keindahan itu. ”Dia itu orang yang sangat ulet mencari warna dan sensasi bunyi alat musik, meski terpaksa harus membuat alat musik perkusi sendiri. Itulah dia,” tambah Burnani.
Burnani mengaku punya banyak kenangan yang sulit dilupakan bersama Sisri. Salah satunya, ketika Sisri usai berlatih Silat Bangau Putih, pada kesempatan jam session bersama Areng Widodo dan Nanu. Sri memadukan ilmu silat dengan kemampuan drumnya. Sri bermain drum diatas drumnya. ”Luar biasa, aku hampir tak percaya Sri melakukannya,” tambah Burnani.
Disamping itu, baginya, Sisri seorang yang berhasil hidup dengan baik usai berpisah dari istrinya Barbara. Meski sempat bercerai, daya hidup yang dimilikinya betul-betul menyala, bukannya frustasi.
Bahkan menurutnya, saat bertemu terakhir di kesempatan perayaan pernikahan putra Sawung Jabo, sebulan yang lalu. Meski tak dalam kondisi sehat, Sisri tetap menggelar jam session drum untuk menghormati sahabatnya tersebut. ”Dia memang luar biasa, kalau sudah bermain seperti hilang rasa sakitnya,” urai Burnani.
Perginya Inisisri, berarti perginya seorang musisi yang memiliki kemampuan, gaya berbeda, serta idealisme bermusik yang saat ini tak terlihat dari para pemain drum, terutama kalangan muda yang masuk ke perkusi.
Kemampuan Sri bermain drum, menciptakan berbagai alat perkusi demi sensasi bunyi-bunyi tertentu, tak tertandingi. ”Kita kehilangan seorang drummer, sekaligus perkusionis genius dan idealis, yang belum akan tergantikan,” tambahnya dengan nada suara yang berat.
Selamat Jalan Mas Sri...
|