Cinta, Sayang, dan Kesabaran Tumbuhkan Anak Autis Jadi Lebih Baik
Oleh Andri Oktavia
Cerita mempunyai anak yang memiliki perkembangan mental tak selayaknya anak-anak seusia, setidaknya sudah menginspirasi beberapa orang tua, mendirikan sebuah lembaga pendidikan bagi anak penderita Autis di kawasan Studio Alam, Depok, Jawa Barat.
Beberapa kesulitan yang semula dihadapi oleh anak yang ditolak masuk sekolah, sekolah memberikan terlalu banyak persyaratan, masalah-masalah tersebut saat ini setidaknya teratasi. Hal tersebut dirasakan oleh Laksminatun, SH., Eny Punawati, Amd.Kep., serta Endah, yang lantas menginspirasi mereka mendirikan sekolah khusus anak-anak autis.
Laksminatun, Direktur Sekolah Harapan Utama Ananda, kepada iwanfals.co.id yang mengaku pernah menyekolahkan anak mereka di SLB, lantas mengambil keputusan untuk mendidik sendiri anak-anak mereka di sekolah tersebut. Terlebih di sekolah juga disamping ditangani khusus, mereka juga diterapi.
Kendati lembaga pendidikan ini baru beberapa bulan berdiri, mengajar dan menerapi anak-anak autis menurut Laksminatun, berarti bersiap memberikan cinta yang tulus kepada mereka.
Demikian pula dengan keikhlasan dan kesabaran. Hal tersebut lantas yang membuat mereka para anak autis tahu bahwa mereka diterima. Tumbuhnya rasa diterima itulah yang membuat anak-anak autis merasa lebih baik.
Autis adalah gangguan perkembangan yang persuasif dimana anak mengalami gangguan di otak bagian belakang. Gangguan tersebut meliputi bagian yang bertanggungjawab terhadap kemampuan bicara, intelektual, dan ada pula yang mengena pada motorik kasar. Mengalami kondisi autis, maka secara otomatis seorang anak juga akan mengalami masalah pencernaan.
Pencernaan anak autis sangat sensitif, tidak boleh memakan zat-zat yang mengandung glutein dan kasein (tepung-tepungan), gula yang terbuat dari gula biasa, dan beberapa jenis susu. Itu mengapa betapa sulit mengurus anak-anak ini, padahal sebagian besar makanan yang beredar mengandung tepung.
Pencernaan anak autis tidak bisa mencerna asam amino, sehingga asam amino tidak bisa diproses baik oleh tubuh. Bahkan, ada beberapa zat yang oleh anak normal dibuang melalui urin atau feses, namun pada anak autis hal itu tidak bisa dilakukan.
Sehingga, jika tanpa disadari anak-anak autis mengkonsumsi zat-zat tersebut, anak autis akan mengalami keadaan yang diistilahkan sakau, yang akan dialami selama berjam-jam. Yang paling menyolok pada anak autis, dia tidak akan fokus dalam satu pelajaran. Bahkan, untuk menoleh jika ditanya pun cukup sulit.
Banyak juga anak autis yang dikatakan cerdas. ”Sebenarnya, kenapa anak autis dikatakan cerdas? Karena mereka selalu fokus terhadap apa yang disukainya. Jika seorang anak suka musik, maka dia akan fokus dengan musik. Demikian halnya dengan anak yang suka membaca buku, membuat makanan, fokus dengan rancangan mesin, dan lain sebagainya,” urainya.
Sementara itu, menurut rekan pengajarnya, pimpinan bidang kurikulum, Eni Purnawati, Amd.Kep., kurikulum bagi anak autis yang diterapkan, merujuk pada Individual Education Program (IEP).
Anak Autis Bisa Diperbaiki Kemampuannya Karena berbagai tingkatan autis yang dialami seorang anak, di sekolah, setiap anak ditangani intensif per-individu, oleh masing-masing pengajar. ”Inilah bedanya menangani anak autis dengan anak yang bersekolah di sekolah umum,” urainya.
Biasanya begitu seorang anak datang untuk bersekolah di tempat ini, tim pengajar akan melihat kemampuan akademis, karakter, mental, kemauan, kemampuan motorik, seorang anak. Dari situ, baru lantas dibuatkan program pengajaran maupun terapinya.
Uniknya, walaupun umur mereka sama, ketrampilan mereka berbeda-beda. ”Kami terima anak-anak ini, sesuai dengan kemampuan mereka. Jadi, katakanlah meski mereka satu kelas, bisa berbeda-beda kemampuannya,” urainya.
Murid penderita autis yang bersekolah di tempat ini, rata-rata berusia 8 - 16 tahun. Jumlahnya mencapai 15 orang. Seiring upaya peningkatan jumlah murid, peningkatan terkait kurikulum pendidikan juga dilakukan. Bahkan, pihak sekolah juga sedang merancang kerjasama dengan lembaga psikologi sebuah universitas negeri.
Dalam berperilaku anak autis cenderung sulit mengendalikan diri. Itu sebetulnya yang jadi penyebab mengapa anak-anak autis menjadi lebih sulit belajar dibandingkan anak-anak normal. Bahkan ketika disuruh duduk dan diam, bukan main sulitnya. ”Itu mengapa kita harus mengajarkan mereka dengan cara yang berbeda,” urainya.
Anak normal jika diajar kepatuhan, akan mampu menyerap dan mengaplikasikannya, sementara anak autis dengan tingkat usia yang sama atau lebih tua, perlu satu tahun untuk patuh. Itupun harus dengan kontinuitas yang baik.
Disayangkannya, yang terjadi justru orang tua tidak sabar. Baru tiga bulan menjalani terapi, anak sudah dikatakan tidak berhasil dan gagal. Padahal, yang dibutuhkan adalah konsistensi. Setelah bertahun diajar, usai menemukan pendekatan yang tepat mereka lantas bisa juga diajak serius belajar.
Di sekolah ini terdapat dua kelas pengajaran. Satu kelas untuk anak-anak yang tingkat autisnya relatif cukup berat, sementara kelas lainnya untuk anak-anak yang sudah bisa diatur.
Di kelas autis yang anak-anaknya kurang bisa diatur, mereka terlihat berteriak-teriak, berlari-lari, serta ingin keluar kelas. Kendati diakuinya, ada perubahan positif dari anak-anak yang tak dipungkirinya.
Di sekolah ini tidak ada paksaan bagi seorang anak, harus berubah sejauh apa. Yang terpenting, setelah menjalani pengajaran dan terapi di sekolah para anak bisa berubah menjadi lebih baik. Rata-rata orang tua murid yang menitipkan anaknya memang tidak terlalu menuntut. Umumnya, meminta agar anaknya bisa berubah lebih madiri.
Pihak pengajar juga berupaya mengembangkan program-program untuk kemandirian, minat dan bakat. Umumnya, anak-anak memang berminat di bidang musik, gambar, seni, sehingga pendidikan memang difokuskan untuk meningkatkan minat dan bakat, agar tidak bergantung di kemampuan akademis.
Sebagian besar anak-anak di sekolah ini, berusia di atas 12 tahun dan banyak yang tidak pernah bersekolah. Sementara yang berusia di bawah 12 tahun pun demikian, banyak yang diantaranya tidak pernah bersekolah.
Kurikulum Standar Plus Terapi Sementara, ditanya iwanfals.co.id soal kurikulum yang diterapkan, dijawab oleh salah seorang rekannya yang lain, Eny Purnawati. Menurut Eny, mengenai kurikulum di sekolah autis ini, menerapkan kurikulum pengajaran spesifik berdasarkan kemampuan anak.
Mengenai kurikulum di sekolah autis ini difokuskan pada Departemen Pendidikan Nasional. Bagi anak yang sudah bisa mengikuti materi Diknas, umumnya materi yang diikutinya adalah materi reguler.
Disamping itu juga diterapkan materi Pendidikan Luar Biasa (PLB). Materi ini diikuti oleh 99% siswa di sekolah ini. Hanya ada satu anak yang materi pelajarannya adalah materi kelas satu SD. Anak tersebut dipersiapkan dulu sebelum disekolahkan ke sekolah inklusif, di tempat ini.
Disinggungnya, sekolah dibagi menjadi tiga macam, yaitu Sekolah Umum, Sekolah Inklusif, dan Sekolah Khusus. Sekolah Inklusif adalah sekolah yang siswanya terdiri anak-anak normal dan beberapa anak kurang normal. Diantara 20 anak jumlah siswanya, sekolah menerima dua atau satu anak yang mengalami ”keterbatasan” di dalam satu kelas.
Sementara, Sekolah Khusus, memang dibuat bagi kebutuhan semua anak berkebutuhan khusus. Semisal C1, C2, B1 dsb. Karena kekhususannya itu, maka pihaknya hanya menerima murid kalangan autis.
Kebanyakan materi yang diajarkan terhadap para siswa, 99%-nya adalah materi Pendidikan Luar Biasa yang dicampur dengan materi perilaku atau perilaku yang terintervensi.
Di dalam penanganan anak-anak autis, ada beberapa ketentuan yang meski tidak tertulis namun biasa diberikan penanganannya. Hal tersebut ialah anak mendapat behaviour, occupacy theraphy, sensory integracy, brain gym, speaking, dan sebagainya.
Di tempat ini, pengajaran lebih difokuskan pada sensory integracy, behaviour (perilaku), dan occupacy theraphy, atau seperti bagaimana menulis, pengajaran keterampilan tangan. Karena pada anak autis permasalahan utamanya di motorik halus, jari-jari tangannya akan selalu kaku.
Pada saat terapi, anak dimasukkan ke dalam satu kelas, anak bertemu dengan gurunya masing-masing. Disamping itu, materi pengajaran yang diterima oleh anak-anak autis ini, juga merujuk pada ABA (perkumpulan autis), dengan jam belajar antara pukul 8 sampai 13.
Dengan materi yang diperoleh dalam perkumpulan autis, anak-anak banyak yang berhasil ditingkatkan kemandiriannya. Sementara jika dibiarkan tanpa bimbingan atau terapi, maka anak autis akan tumbuh dan menjadi seperti robot, serta banyak hal sepele tidak akan bisa dilakukannya. ”Anak akan tidak mampu buang air kecil, air besar, bahkan banyak yang lantas mengganggap dia gila. Padahal dia hanya autis,” urainya.
Banyak anak-anak autis yang ada di masyarakat, lantas tidak terdidik dengan baik. Bahkan, jika dilihat dari gambar-gambar orang hilang yang sering ditemui banyak juga yang tampak menderita autis.
Saking teganya orang tua, misalnya. Ada yang bahkan dengan sengaja membuang anaknya yang menderita autis. Suatu saat pernah ada seorang bapak mengantarkan seorang anak autis ke yayasannya.
Menurutnya bapak tersebut melihat anak autis itu diturunkan dari sebuah mobil oleh dua orang yang kemungkinan ayah dan ibunya. ”Jadi memang kemungkinannya banyak,” urainya.
|