Mendesak Pemahaman Wasit Terhadap Peraturan Baru Karate
Oleh Andri Oktavia Semenjak (7/5-9/5), sebanyak 174 wasit dan pelatih karate, mengikuti seminar 2nd Referee & Judges Seminar. Sebuah seminar yang ditujukan menyeragamkan pemahaman maupun penerapan teknik scoring dalam berbagai event karate.
Seminar juga dihadiri oleh Ketua PB FORKI, Luhut M Pandjaitan, serta menampilkan pembicara kunci, Tommy Moris (WKF Referee Commision Chairman).
Dalam kata pembukanya, Luhut M Pandjaitan sangat berharap pengetahuan-pengetahuan yang sudah berubah terkait pertandingan karate wajib diketahui oleh wasit dan juri, terlebih segera diaplikasikan oleh para wasit, juri, pelatih, hingga atlet.
Sebab, jika para wasit, juri, pelatih, maupun atlet sudah mengetahui adanya perubahan-perubahan, segala gelaran pertandingan diharapkannya akan berjalan lancar dan terhindar dari protes.
Luhut juga berharap, kedepannya para karateka Indonesia, melalui seminar yang digelar ini dapat meningkatkan prestasinya hingga lebih baik lagi.
Pantauan iwanfals.co.id, hampir semua peserta memperhatikan dengan seksama penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh Tommy Moris, mengingat beberapa perubahan sudah diaplikasikan di berbagai event baru-baru ini.
Fakta yang mengemuka dalam perkembangan dunia olahraga keras karate, juga disampaikan olehnya. Menurut Tommy, idealisme karateka yang mengambangkan beladiri karate dengan “cinta†belakangan sudah memudar.
Hal itu terlihat dalam berbagai kejuaraan, terlebih pada kejuaraan-kejuaraan dunia karate, para karateka banyak yang lebih mementingkan uang, ketimbang mementingkan sportifitas dalam bertanding.
Sebagai gambaran, bayaran yang diperoleh seorang atlet karate pada kejuaraan dunia, medali emasnya dihargai US$ 5.000-10.000. Jumlah tersebut meningkat berkali lipat, pada kejuaraan dunia di Tokyo. Seorang karateka peraih medali emas untuk nomor paling bergengsi Kumite Beregu, medali emasnya dihargai hingga US$ 100.000.
Nilai yang tinggi dari medali seorang atlet karate itulah yang terkadang memicu kecurangan, jika pertandingan sudah memasuki fase yang paling menentukan.
Seminar tersebut digelar terutama untuk membedah, memberi pemahaman tambahan bagi para wasit dan juri, hingga pola-pola kecurangan yang sering terjadi juga dibeberkan.
Muara dari kegiatan ini, diharapkan juga menambah keselamatan para atlet karate yang ikut di berbagai kejuaraan, hingga diharapkan mutu dari setiap pertandingan karate sendiri bisa meningkat.
Sementara itu, kepada iwanfals.co.id , Donal Pieter Luther Kolopita selaku wasit senior karate Indonesia mengatakan urgensi digelarnya acara ini. Terlebih karena semakin dekatnya pelaksanaan event-event karate di tanah air, seperti Piala Mendagri, hingga pada akhir Juni, event Martial Art di Bangkok.
Terlebih di Indonesia ada 33 provinsi, agak sulit jika FORKI harus melakukan presentasi ke masing-masing daerah. Oleh sebab itu, Ketua Referee Council dan Score Commision yang membuat peraturan di karate, dan asisten MR Roben Hoy dari Malaysia, AA Card Member, diundang datang, terutama agar distribusi informasinya cepat tersebar.
Agar informasi secara utuh dapat segera terdistribusi, maka model-model seminar, tanya-jawab, dan pemutaran video pada pertandingan-pertandingan dunia yang dilengkapi model peraturan yang telah berubah, bisa dilihat langsung sebagai arahan oleh peserta yang dipandu oleh Tommy Moris. “Disamping tentunya digelar praktek sekaligus tanya-jawab disela-selanya,†tambah wasit Indonesia yang kasusnya pernah mencuat karena dipukuli polisi Malaysia ini.
Adapun beberapa peraturan yang secara garis besar berubah diantaranya, tendangan ke bagian perut dan beroleh poin, kompensasinya adalah nilai nihon.
Kemudian mubobi, dulunya baik yang memukul dan mubobi akan menerima hukuman. Tetapi sekarang, hanya yang mubobi saja yang memperoleh hukuman.
Lantas ada juga tumbukan atau exaggeration, melebih-lebihkan akibat tumbukan, tanpa peringatan, sekarang lawannya akan memperoleh keikoku.
Selanjutnya bagi atlet yang melakukan intrik, tanpa ada yang cedera dia akan langsung diusir, seikaku. “Kalau pura-pura, panggil dokter, setelah dicek tak ada bekas, atlet akan langsung diusir,†tambahnya, seraya mengatakan jika karateka sudah dapat seikaku tentu akan sangat memalukan.
Donal juga menyatakan, secara keseluruhan para pelatih karate yang juga hadir, umumnya tidak memahami saat 10 detik terakhir, dimana pemandangannya kerap banyak atlet yang “berpura-pura†melakukan intrik untuk meraih poin.
Meski juga diakui banyak yang karena diserang terpaksa melakukan jogai, sekarang menurutnya, hal itu tidak bisa dikatakan sebagai deliberate atau pura-pura, tetap dianggap dalam satu rangkaian penghindaran hingga atlet melakukan jogai tersebut.
Ditambahkan Donal, program dengan peraturan baru karate itu, di Asia sudah tersosialisasikan. Diantaranya di Malaysia, pada waktu digelarnya kejuaraan besar di negeri jiran tersebut, baru-baru ini. |