|
| |
|
|
| |
|
Piala Thomas dan Uber Lepas, Karena Pemerintah Sibuk Urus Politik
Oleh: Andri Oktavia
Indonesia batal merengkuh juara dalam pertandingan bulu tangkis bergengsi Piala Thomas di Kuala Lumpur kemarin. Taufik dkk dikalahkan tim Cina dengan skor 3-0 langsung.
Kemenangan Cina dipastikan setelah perwakilan Jin Chen yang menjalani partai ketiga mampu mengalahkan perwakilan dari Indonesia, Simon Santoso, dengan skor 19-21, 21-17, 21-7.
Sebelumnya, pada partai pertama, Indonesia sudah tertinggal 1-0 setelah Taufik Hidayat kalah dari Lin Dan, dua set langsung. Taufik harus mengakui keunggulan lawan, 21-7 dan 21-14. Pada partai kedua, Indonesia menurunkan pasangan Markis Kido dan Hendra Setiawan. Namun, Markis dan Hendra juga bernasib sama dengan Taufik.
Kekalahan tim Thomas maupun Uber Indonesia dikomentari oleh Hastomo Arbi, pelatih Bulutangkis eks pemain nasional ini menyatakan kepada iwanfals.co.id. Kekalahan para pemain bulutangkis Indonesia di Piala Thomas, karena ”habis”-nya stamina para pemain Indonesia.
Markis Kido. Hendra Setiawan, Taufik Hidayat, dan Simon Santoso, menurutnya terlihat ”kehabisan bensin” ketika berhadapan dengan para pemain muda Cina.
Faktor kelelahan yang dialami oleh para atlet kita menurut Hastomo juga dikarenakan usia para atlet bulutangkis kita yang jauh di atas pemain Cina, umumnya mereka memang lebih muda.
Disamping itu, Hastomo juga menilai kekalahan atlet bulutangkis kita merebut supremasi piala beregu bulutangkis dunia itu, juga dikarenakan padatnya jadwal mengikuti kejuaraan-kejuaraan terdahulu, baik di tanah air maupun internasional.
Sementara atlet Cina yang turun di Thomas maupun Uber memang dikhususkan untuk event tersebut, melalui rangkaian TC (training centre) selama tiga bulan. Hal tersebut berbeda dengan atlet Indonesia, ”Tidak sampai tiga bulan, atlet kita khusus berlatih merebut Piala Thomas,” urainya.
Hastomo tidak menampik, faktor lain kalahnya Indonesia atas negara-negara peraih Thomas maupun Uber, yaitu karena kurangnya stok pemain. ”Memang bisa juga demikian,” jawabnya.
Sementara, ditanya cara agar Indonesia kembali jadi raja di olah raga bulutangkis, pelatih di PB Djarum ini berpandangan, PBSI mesti lebih berani mengirim atlit-atlit muda ke berbagai kejuaraan baik nasional maupun internasional.
Hastomo menolak jika dikatakan bulutangkis Indonesia sudah tertinggal, dia menyatakan bahwa kemajuan bulutangkis Indonesia tetap saja ada. Hanya, Cina dalam hal ini memang maju lebih cepat ketimbang Indonesia. ”Sektor putri Cina, yang terlihat regenerasinya cepat sekali,” tambahnya.
Sementara itu, menurut paranormal asal Surabaya, Suhu Guntur, yang dikutip dari media online, kegagalan tim Thomas Indonesia menandai dimulainya tahun kegagalan olahraga di Indonesia.
Menurut spiritual, pada tahun macan, olahraga Indonesia terpuruk. Tahun 2011, tahun kelinci, masih tetap tidak bisa bangkit. Tapi, di tahun 2012, tahun naga, Indonesia bisa bangkit.
Disamping itu menurutnya, yang tak kalah berpengaruh besar adalah tidak stabilnya politik dan kehidupan politik bernegara. ”Penggede kita nggak ada yang ngurusin atlit,” urainya.
Paralel dengan pendapat Guntur, Haryanto Arbi, eks pebulutangkis nasional juga menyatakan, peluang yang cukup terbuka bagi Indonesia menyabet Piala Thomas baru akan datang pada tahun 2012.
Itupun menurutnya, jika para pengurus bulutangkis mampu meramu kekuatan antara pemain tua dan muda. Disamping itu juga karena Piala Thomas rencananya akan digelar di Indonesia.
Pasca kegagalan Tim Thomas maupun Uber Indonesia, Susi Susanti yang ditemui iwanfals.co.id menyatakan, pihaknya prihatin atas merosotnya prestasi sekaligus kegagalan tim Piala Thomas Indonesia dari tim Cina.
Namun dia masih berharap, agar pemerintah dan masyarakat tetap medukung para atlet bulutangkis untuk bisa berprestasi dan mengembangkan prestasinya di masa-masa mendatang.
|
|
|
 |
|
 |
|