WELCOME, GUEST   |   LOGIN   |   REGISTER !
SEARCH

Ekonomi
Eksklusif
Human Interest
Olahraga
Pendidikan
Perspektif
Politik
Seni & Budaya
Tentang Kami
     
 
1   Mutiara, ”Jauh Di Laut Dekat di Hati”
2   Lambannya Penanganan Kasus Century Bikin Kerugian Ekonomi
3   Masih Lemah, Perlindungan Konsumen di Indonesia
4   Kasus Century Dapat Pengaruhi Investasi di Indonesia
5   Banjir Genangi Sebagian Besar Jawa

Mutiara, ”Jauh Di Laut Dekat di Hati”

Oleh: Andri Oktavia

Bicara soal perhiasan, tak lengkap tanpa membicarakan mutiara. Martha Dagama (29) adalah profil perajin kecil mutiara air tawar asal Bekasi. Wanita berdarah NTT ini, kebetulan bersuamikan lelaki asal Jogjakarta. Dia mulai menggeluti kerajinan ini semenjak tahun 2006.

Butiran mutiara yang umumnya berasal dari NTT dan NTB, “diubahnya” menjadi untaian perhiasan. Dengan pasokan bahan baku berupa mutiara asli dari kerabatnya di NTT, Maumere, dan NTB.

Ibu seorang putri ini, sehari-harinya bahu-membahu dengan suami, merangkai satu per satu mutiara yang merupakan hasil budidaya tersebut dengan tali nilon, atau kawat besi dan mengkombinasikannya dengan aplikasi magnet, batu-batuan, kristal, bruse steen, bahkan rencananya dia juga akan mengkombinasikannya dengan perak.

Awalnya, di tanah kelahirannya, Ternate, Martha sempat terpikir juga untuk berbisnis gading, sebuah kebutuhan bagi tradisi masyarakat Ternate. Gading-gading tersebut tuturnya, digunakan bagi keperluan melamar oleh pria terhadap gadis pujaannya. Tak heran, jika di rumah sebuah keluarga, kerap dijumpai hiasan gading.

Gading-gading tersebut bagi masyarakat Ternate menjadi sebuah keharusan, meski berharga mahal, karena barang impor yang didatangkan dari Afrika pada umumnya. Harganya mulai dari Rp 5 juta, hingga puluhan juta rupiah, bergantung kondisi dan ukuran gading tersebut. ”Semakin besar semakin mahal,” tambahnya.

Namun kemudian dia mengambil jalan yang lebih mudah, ketimbang mengeluarkan modal besar untuk bermain di usaha gading, dengan fokus ke usaha kerajinan mutiara. ”Mutiara lebih terjangkau bagi saya,” tambahnya.

Kepada iwanfals.co.id Martha mengaku biasa mengerjakan proses desain perhiasan mutiara. Sesekali dia “turun” ikut membantu sang suami merangkai mutiara, hingga menjadi perhiasan cantik. “Mungkin karena suamiku asal Jogja, hingga dia lebih telaten merangkai mutiara menjadi perhiasan,” urai wanita yang sudah mendesain ratusan model perhiasan dari mutiara ini.

Ikhwal mutiara, dia menyatakan biasanya mutiara terbagi menjadi dua macam, mutiara air laut dan mutiara air tawar. Mutiara air laut umumnya berharga mahal dan hanya bisa dijangkau oleh kalangan atas, karena berasal dari kerang liar di lautan. Sementara mutiara air tawar adalah mutiara hasil budi daya, yang harganya terjangkau oleh berbagai kalangan.

Mutiara-mutiara yang dikirim ke Martha, sesuai permintaannya, akan dilubangi terlebih dulu satu per satu oleh petaninya, untuk mempermudah pengerjaan, bergantung kebutuhan yang diinginkannya.

Berbasis desain yang sudah dibuatnya, mutiara-mutiara itu akan dirangkai menjadi perhiasan-perhiasan yang diminati pasar, membaurkannya dengan bahan aplikasi pendukung. Umumnya produksi kerajinan mutiaranya adalah berupa kalung, anting, giwang, cincin, gelang kaki, bros, tasbih dan sebagainya.

Biasanya, hasil buah tangannya tersebut dijajakan pada event-event pameran, bazaar, maupun event-event kantor, yang digelar di Pulau Jawa, seperti di Jogjakarta, Bandung, DKI, Depok, Kediri. Juga beberapa event yang digelar di Bali dan Lombok, dua tempat yang merupakan ”gudang”-nya kerajinan mutiara.

Menurutnya, ada beberapa jenis mutiara air tawar yang biasa digunakannya untuk memproduksi perhiasan, diantaranya Mutiara Pink, Gold, Salem, dan Hitam. Disamping itu juga ada jenis Mutiara Beras, Bakpaw, Air Mata, dan Barok (mutiara dari kerang liar -red). Dari beberapa jenis mutiara tersebut, yang terbilang mahal adalah Mutiara Barok dan Bakpaw karena berasal dari kerang liar.

Martha sempat mendemontrasikan kepada iwanfals.co.id, tentang keaslian mutiara-mutiara miliknya, dua buah mutiara saling digoreskan, meninggalkan jejak berupa goresan di permukaan mutiara, jejak tersebut segera hilang, manakala diusap dengan tangan.

Demikian pula dengan sebutir mutiara yang digoreskan pada cermin, sisa goresan pada permukaan mutiara tersebut juga hilang ketika diusap. ”Ini ciri mutiara asli, sisa goresan akan hilang mana kala diusap, permukaan mutiara akan licin dan berkilau seperti sediakala,” urai sang suami.

Dari mutiara-mutiara buah karyanya dan suami, biasanya dijual dengan harga termurah di kisaran Rp 27.000 (hiasan gelang). Sementara ada pula yang harganya mencapai Rp 350.000. Di luar itu yang termahal adalah untaian mutiara hitam, berupa tasbih seharga Rp 1,5 juta. Dari harga tersebut paling banyak 30% adalah bagian keuntungannya.

Sebelum masa krisis di tahun lalu, yang dirasakan oleh hampir seluruh kalangan UKM, dia sempat memiliki tiga orang pekerja yang membantunya. Namun setelahnya, dia memutuskan untuk mengerjakan kerajinannya tersebut bersama suaminya, demi memangkas biaya. ”Alhamdulillah kita bisa bertahan dan mulai merangkak untuk bangkit kembali usai deraan krisis,” tandasnya.

Uniknya, karena biasa ”hidup” dari satu pameran ke pameran lainnya, dia sudah bisa menilai minat pasar di mana event akan digelar. Yang paling tinggi minat pasar, ada di Jakarta dan Bandung. Demikian pula dengan masalah harga, Jakarta dan Bandung tergolong tinggi minatnya membeli mutiara di atas harga Rp 200.000-an. Sementara yang terendah adalah Jogja dan Kediri, lebih menyukai perhiasan mutiara dengan kisaran harga di bawah Rp 50.000-an.